Rabu, 26 November 2008

“ Banyak penderitaan timbul karena keinginanmu yang terlalu banyak, banyak kesedihan timbul karena kamu tidak memperoleh apa yang kamu inginkan.”
“ Orang yang melawan monster, akhirnya akan menjadi monster “



PENDERITAAN DAN KEINGINAN

Ada sebuah cerita yang saya baca dari sebuah buku pinjaman ( maaf judulnya lupa…. Tapi yang jelas terbitan luar negeri ). Ceritanya begini, ada seorang pemuda yang berpenampilannya tampan dan elegan. Waktu kuliah, dia sangat ngetop, prestasi kuliahnya cemerlang dan full of talent. Berjalan bersama dengan dia, membuat diri menjadi minder. Kalah pamor ! Pemuda ini punya sebuah impian, yaitu ingin punya mobil warna merah yang ngetop itu, President Taxi ? bukan lah ! Tuh.. merek mobil yang dikendarai si Massa dan Kimi itu, Ferrari ! Wah, rasanya keren sekali punya mobil merek Ferrari, melihat lekukan-lekukan body mobilnya yang seksi, suara mesinnya yang penuh power, membuatnya begitu bernafsu untuk mencapai impiannya itu.
Setelah tamat kuliah, dia kerja di sebuah perusahaan multinasional yang top. Dengan kerja kerasnya, ia berhasil mendapat promosi beberapa kali selama empat tahun, gajinya tentu ok juga. Maka berhasillah ia membeli Ferrari impiannya. Keindahan dan kehebatan mobil itu sama dengan yang dibayangkan. Di jalanan ia selalu mendapat pandangan kagum dari orang-orang yang melihatnya, apalagi cewek-cewek yang begitu terpesona melihat seorang pemuda ganteng sedang mengendarai Ferrari merah menyala ! Dan dia senang sekali mendapat perhatian kagum itu.
Namun dengan memiliki Ferrari itu, “harga” yang harus ditebus juga sangat menakjubkan. Untuk mengimbangi penampilan dan gaya hidupnya yang sesuai dengan kelas “Ferrari” , mau tidak mau ia harus berpakaian yang “branded”, makan di restoran mahal, membeli hadiah untuk pacar juga yang mahal-mahal, sampai parkir-pun harus di tempat khusus yang mahal tarifnya ( ya… kan gak mungkin Ferrari diparkir di tempat parkir oplet, kalo kegores kan gawat tuh ! ). Saat harus melakukan perawatan rutin, lebih gawat lagi, biaya yang dikeluarkan untuk sebotol oli mesin aja mahalnya udah bikin dia “lecet-lecet”. Mobil ini akhirnya menjadi “lubang tak berdasar”, menelan semua uang yang dengan susah payah diperoleh. Mau tidak mau dia harus kerja lebih keras untuk tetap bisa hidup di kelas Ferrari impiannya.
Setelah beberapa waktu, ia mendapati ada ada sedikit cat di body mobilnya yang terkelupas, dan di bagian pintu ada goresan. Pandangan kagum orang-orang di jalan sudah terasa hambar baginya, bahkan ia mulai curiga kalau pacarnya itu mau sama dia karena ada Ferrari. Ferrari yang semula menjadi impiannya kini telah menjadi semacam beban berat bagi dirinya. Ini merupakan hal yang tidak ia duga sebelumnya. Ia mulai bertanya : “ am I happy ? “
Tentu ia tidak happy, karena dia tahu bahwa ia telah diatur oleh hasratnya sendiri. Kita sedang hidup di zaman dimana “hasrat memiliki” terus meningkat. Dan suatu zaman yang buta, dimana diri yang justru diatur oleh hasrat. Seperti pemuda yang “menjual” pribadinya sendiri demi seunit mobil mewah. Kelihatannya sih dia yang sedang mengendarai mobil itu, tapi sebenarnya dia sedang “dikendarai” mobilnya sendiri. Justru si Ferrari lah yang menjadi “tuan” pemuda itu, bukan pemuda itu yang menjadi tuan si Ferrari.
Saat ini banyak orang yang penghasilannya makin tinggi, justru tanggungan dan beban menjadi semakin berat. Kok bisa ? Seorang teman kuliah, waktu masih bergaji Rp. 5 juta per bulan, selalu mengeluh gak cukup. Sekarang ia sudah menjadi GM sebuah perusahaan lumayan besar, digaji Rp. 35 juta per bulan, dapat rumah dan mobil dinas lagi, tapi setiap ketemu dengan saya masih sering juga mengeluh penghasilannya kurang. Apakah ia takut saya pinjam uang sama dia ( sorry bro, just kidding ! ) ? Ah… may be ! Kan ia tahu kalau saya dari dulu gitu-gitu aja, selalu T- shirt, celana jean, dan sepatu sport, penghasilan ya.. gitu-gitu aja.
Sebenarnya kondisinya begini : karena semakin banyak penghasilan, semakin banyak pula pemakaian, sehingga perlu mencari penghasilan yang lebih banyak lagi untuk mengimbangi pemakaian yang makin tinggi. No wonder ada yang bilang begini : “ when you beginning earn money, you need an accountant, when you earn a lot of money, then you need a lawyer “. Tahu kan maksudnya ?
Kehidupan manusia ini ibarat mendaki gunung, awalnya sih ingin pergi ke puncak gunung lihat pemandangan dari ketinggian, tetapi karena begitu banyak beban keinginan/hasrat yang dipikul, jadi makin berat mau mencapai ke puncak. Ya.. kalau mau mendaki gunung, bebannya makin dikit makin baik ! Jadi kalau dakinya dengan beban seabrek, jangankan mau menikmati pemandangan di puncak gunung yang menakjubkan, untuk menikmati pemandangan sepanjang perjalanan aja susah. Kalau sudah begini, apalah artinya mendaki gunung ini ? Apalah artinya kita menjalani kehidupan ini ? yang dirasakan hanyalah bagaimana beratnya beban di punggung, pemandangan di sekeliling tak pernah terlihat dan dinikmati. Banyak orang yang sibuk mencari uang, begitu sibuknya sampai ia tidak pernah tahu bagaimana rasa bahagia melihat anaknya mulai merangkak, mulai berdiri, mulai berbicara, mulai sekolah,………………..”. Hmm..kasihan sekali kalau kita harus hidup seperti ini.
Ada seorang filsuf ( lupa namanya ! ) berkata demikian : “ Kehidupan adalah sekumpulan keinginan, keinginan tidak terpenuhi maka akan merasa menderita, bila terpenuhi akan merasa membosankan “. Dalam kehidupan ini, kita jarang sekali mau memikirkan apa yang sudah kita miliki, tapi justru memikirkan terus bagaimana mendapatkan apa-apa yang sebenarnya sulit didapatkan, seolah-olah disanalah kebahagiaan sedang menunggu kita, dan dalam perjuangannya ia justru menjadi buta terhadap kebahagiaan yang sebenarnya sudah di depan matanya.
Berkurang satu keinginan, akan bertambah satu kebahagiaan. Banyak penderitaan di dalam kehidupan manusia, sebenarnya timbul akibat terlalu banyak keinginan. Kurangi keinginan ! maka kita akan merasa lebih bahagia. Suatu hari ….. kita akan menyadari bahwa sebenarnya kehidupan yang bahagia adalah kehidupan yang sederhana.
Selamat malam, dan tidur yang nyenyak ya !

Tidak ada komentar: