
Dalam menjalani kehidupan kita saat ini, dimana banyak kondisi lingkungan, sosial, ekonomi, dan politik yang lagi “not on the right track”, rasanya begitu melelahkan. sehingga hari-hari terlewati oleh kegiatan-kegiatan rutinitas yang membuat hati kita begitu kosong dan kering. Saya tidak tahu apakah rekan-rekan punya perasaan seperti ini.
Dalam keadaan hati yang kosong dan kering, lama-kelamaan hati ini seperti tanaman yang kurang gizi. Haahh….. jangan sampai hati kita menjadi pelan-pelan layu dan akhirnya mati. Apa jadinya jika kita hidup dengan hati yang sakit atau mati ?
Hati kita sama dengan tanaman yang harus disirami dan dipupuk agar bisa tumbuh dengan baik. So… jangan lupa untuk menyirami hati kita dengan “doa” dan memupukinya dengan “renungan-renungan”.
Blog ini saya buat dengan maksud agar kita sedikit bisa berbagi cerita dan pandangan yang bisa kita pakai untuk bahan renungan sebelum kita tidur, sehingga kita bisa mengakhiri dan mengawali suatu hari dengan hati yang lebih baik. Ya.. mudah-mudahan renungan-renungan di blog ini bisa menjadi sebuah aliran sungai kecil di hati anda, untuk mengaliri “sawah hati” anda agar jangan sampai kekeringan.
PERLU MAKAN, MAKAN LAH ! PERLU TIDUR, TIDUR LAH !
Jadi coba kita bilang sama diri kita sendiri : “ Biar apapun yang terjadi, saya pasti bisa menghadapinya ! No matter what’s happen, I can take it ! “. Jadi kita perlu menggunakan sikap hati yang tenang untuk menjelaskan kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan dalam kehidupan kita.
“ Kalo rumah gua kebakaran,gimana ya ? ya.. pindah aja, gak bisa di rumah kontrakan, ya.. di kolong jembatan layang juga gak apa-apa ! Yang penting kan gua gak ikut kebakar, jadi masih bisa usaha untuk mendapatkan rumah pengganti yang lebih baik. “.
“ Kalo gua ternyata harus di-PHK, mau gimana ? Kredit rumah dan mobil masih belum lunas ! Pinjaman dari mertua masih belum dikembalikan ! Ya.. cari aja kerja lain, kerja apa aja asal halal ! Kalo memang harus jadi tukang bakso, ya lakoni aja ! Daripada bersedih terus di rumah.
Di dunia ini gak ada tempat yang mendung terus, dan gak ada yang cerah terus ! So.. no matter what’s happen, just take it !“
“ Kalo gua ternyata mati ketabrak mobil gimana ? Ya… berarti lakon gua di dunia ini sudah selesai ! “. Simple aja ! Gak usah terlalu nyelimet, gak usah mempersulit hidup yang sudah sulit ini.
Nih.. ada sebuah cerita menarik yang bisa kita simak “moral of the story”-nya. Ceritanya begini, saat musim panas, rumput-rumput di halaman sebuah biara pada mengering. “ Jelek sekali ! mari kita sebarkan benih rumput ! “ kata seorang biarawan kecil. “ Tunggu sampai cuaca agak adem ! ” jawab si biarawan tua. Sambil mengibaskan tangannya, beliau berkata : “ Turuti masanya nak ! “ Pada saat musim gugur, si biarawan tua membeli sebungkus bibit rumput, kemudia menyuruh si biarawan kecil menyebarkan benih-benih itu. Tiba-tiap angin bertiup, benih-benih tersebut pada beterbangan tak tentu arah. “ Gawat, gawat ! banyak benih yang hilang dibawa angin. “ Teriak si biarawan kecil. “ Gak apa-apalah ! Yang terbawa pasti udah pada kosong, jadi biar udah disemai, gak bakalan bertunas.“ Sambil mengibaskan tangannya, beliau berkata : “ Turuti sifatnya nak ! “. Kemudian, setelah selesai menyemai, datang beberapa ekor burung yang datang memakan benih-benih yang baru disemai. “ Sialan ! habis deh benih-benih kita dimakan burung ! “ teriak si biarawan kecil sambil berjingkrak. “ Gak apa-apalah nak ! benih yang kita semai cukup banyak, gak bakalan habis dimakan burung ! “ kata biarawan tua itu. “ Turuti pertemuannya ! “ sambungnya lagi.
Kemudian pada tengah malam turun hujan lebat. Paginya si biarawan kecil dengan tergesa-gesa lari menuju kamar si biarawan tua, “ Guru, gawat nih ! banyak benih-benih kita terbawa air hujan ! “. “ Ya.. terbawa sampai dimana, tumbuh dimana ! “ kata si biarawan tua. “ Turuti jodohnya ! “ sambungnya lagi.
Setelah semingguan, halaman yang tadinya “botak” seperti kepala si biarawan, sekarang sudah kelihatan menghijau karena sudah banyak benih rumput yang tumbuh, sudut-sudut yang tadinya tidak disemai benih, sekarang malah juga ikut menghijau oleh bibit yang tumbuh. Si biarawan kecil berteriak kegirangan sambil bertepuk tangan. Si biarawan tua mengangguk-angguk sambil berkata : “ Turuti kegembiraannya !”
Apa sih moral of the story cerita tersebut ? Setelah kita renungkan, mungkin akan banyak pesan-pesan moral yang bisa kita simpulkan. Yang kita lihat, adalah si biarawan tua yang selalu berkata : “ Turuti………. “. Ya turuti apa yang terjadi, turuti bukan menurut, tapi mengikuti secara alami, mengikuti kodratnya, mengikuti takdirnya, tidak memaksa, tidak mengerutu, tidak pesimis, tidak kaku, tidak lupa diri (.. bahwa kita adalah makhluk ciptaan Tuhan ! ). Tak semua hal yang kita inginkan bisa terkabul. Kita wajib berusaha, namun hasilnya ada yang menentukan. We know Who !
Dalam kehidupan, janganlah kita berpikir bahwa semua akan berlangsung seperti apa yang kita inginkan ( …. Setelah benihnya disemai, maunya sih tumbuh semua dengan baik… ), dan jangalah kita berpikir bahwa kita akan selalu berada di musim semi terus, musim penuh bunga-bunga bermekaran ( …. Turuti masanya ! ), setiap orang dalam kehidupannya pasti akan mengalami rintangan, kegagalan, kesedihan, dan naik-turunnya masa jaya. Siapa sih yang bisa berjaya terus ?
Sebagai manusia yang “hidup”, kita wajib bekerja dan berusaha untuk semua hal-hal yang baik, namun janganlah kita terlalu memaksakan kehendak kita ( itu.. kalo kita percaya adanya YANG MAHA …… ). Jika kita terlalu memaksakan kehendak kita, maka ritme kehidupan kita akan menjadi cepat, tertekanan, gugup, cepat marah atas hal-hal yang sepele, dan akhirnya hati kita akan hilang ketenangannya, dan pelan-pelan hati kita pun akan menjadi buta. Manusia dengan hati yang buta, pasti tidak manusiawi lagi.
Dalam menghadapi segala masalah hidup, kita tetap harus menjaga ketenangan hati kita, dengan demikian barulah kita bisa “ want eat, eat lah ! want sleep, sleep lah ! “, pagi pergi kerja dengan santai, sore pergi jalan-jalan, malam tidur dengan tenang. ya.. hiduplah lebih rileks !
“Biarlah setiap hal berkembang sesuai kodratnya, sesuai takdirnya, jagalah keseimbangan hati kia. Jalan yang tidak seimbang akan menjadi semakin sempit saat kita melewatinya. Kehidupan yang tidak seimbang, tidak akan menghasilkan akhir yang sempurna.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar